Saya pernah membayangkan
bagaimana repotnya menjadi ibu rumah tangga. Dan ternyata jauh lebih repot dari
yang saya bayangkan sebelumnya. Menjadi ibu bukanlah hal yang mudah, dimana
kita menjadi aktor utama di rumah. Menjadi center
of view, memperhatikan apa yang suami dan anak butuhkan, semua perhatian
kita habis untuk memikirkan mereka setiap hari. Mulai dari mereka bangun,
sampai tidur kembali. Apalagi untuk Anda yang juga bekerja, tentu saja hal
tersebut sangat melelahkan.
Saya yakin semua ibu melakukannya dengan hati
ikhlas dan sadar bahwa itu kewajibannya tapi bukan berarti suami menganggap hal
tersebut lumrah dan memang biasa dilakukan seorang isteri. Isteri bukanlah
orang satu-satunya yang dipilih suami untuk dinikahi kemudian dibebankan tugas
mengurus suami, anak dan seisi rumah sejak terbit fajar hingga tenggelam
matahari. Isteri adalah partner untuk suami, begitu pun suami adalah partner
bagi isterinya. Partner berbagi cerita, berbagi rasa hingga berbagi beban
pekerjaan. Apalagi jika ia sudah menjadi seorang ibu, maka tugasnya akan
semakin berat dalam mengurus rumah tangga. Diperlukan hati yang damai serta
komunikasi yang baik untuk membangun keutuhan rumah tangga bersama anggota
keluarga baru yaitu si buah hati yang baru saja hadir ditengah-tengah kita.
Wanita yang baru saja hamil
kemudian melahirkan, tentu saja kondisi kesehatan dan psikologisnya belum
pulih. Hormone didalam tubuhnya pun belum stabil sehingga mempengaruhi kondisi
hati dan pikirannya. Paginya mungkin ia terlihat ceria namun kemudian ia
tiba-tiba terlihat murung atau bahkan emosional. Ia membutuhkan waktu untuk
menyembuhkan luka setelah melahirkan baik itu normal maupun Caesar, namun
panggilan jiwa seorang ibunya terpanggil ketika melihat si kecil merengek haus ingin
menyusu sehingga ia harus mengenyampingkan rasa sakitnya. Resiko kurang tidur
pun akan dialami hampir oleh semua ibu yang baru melahirkan karena ia akan sering terjaga di malam hari untuk menyusui anaknya. Termasuk hal-hal lain
yang menyita waktu istirahatnya.
Kesibukan seorang ibu memikirkan
anak dan suami bahkan membuatnya lupa untuk memikirkan dirinya sendiri.
Disinilah peran suami dibutuhkan. Pekerjaan rumah yang menyita tenaga dan waktu
terus-menerus dapat menyebabkan stress dan perasaan tertekan yang memicu amarah
seorang ibu. Jika perasaan tertekan dibiarkan dalam jangka waktu lama dapat memicu seorang ibu melampiaskan emosinya kepada suami bahkan kepada anaknya. Mood seorang ibu akan sangat mempengaruhi pada pola didik si
kecil, tentu sebagai orang tua kita tidak ingin bukan anak kita meniru
kemarahan orang tuanya? Sebelum hal tersebut terjadi lakukan beberapa hal
berikut ini:
1. Mintalah bantuan
Jika Anda seorang ibu yang
tinggal dengan orang tua atau saudara yang lain, mintalah bantuan dari mereka
untuk menggantikan tugas Anda, seperti menggendong si kecil atau membereskan
pekerjaan rumah yang lain. Namun jika Anda seorang ibu mandiri yang hanya
tinggal dengan anak dan suami, Anda bisa meminta bantuan suami untuk berbagi
peran dalam rumah tangga. Memasak atau mencuci bukanlah pekerjaan mutlak
seorang perempuan, tidak ada salahnya menggantikan beberapa pekerjaan isteri
untuk meringankan bebannya di rumah.
Sebagai catatan, ketahuilah mood
satu sama lain. Jika suami menolak untuk membantu karena alasan pekerjaan di
kantor, janganlah memaksa karena akan memicu keributan. Namun jika suami selalu
menolak jika dimintai bantuan, berilah ia penjelasan bahwa pekerjaan rumah juga
sama beratnya.
2. Pilihlah sesuatu yang Anda sukai
Anda bisa melakukan kegiatan
untuk membuat Anda merasa bahagia, seperti misalnya melanjutkan hobi Anda,
membuat kue, berkebun atau melakukan olah raga ringan, pergi ke salon untuk
pijat atau perawatan juga dapat dipilih agar Anda semakin merasa percaya diri
dan tampil lebih segar di depan suami. Tentu saja kegiatan tersebut bermanfaat
untuk Anda dan suami bukan?
3. Maksmimalkan waktu “Me Time” Anda
Sebagai seorang ibu, baik itu ibu
rumah tangga maupun ibu yang bekerja, Anda sangat membutuhkan waktu senggang
untuk diri Anda sendiri. Dilansir dari British Study yang menemukan bahwa
rata-rata seorang ibu menghabiskan waktu selama 17 menit untuk “Me Time” nya. Me time memang bisa dihabiskan dengan banyak kegiatan yang
membuat Anda tenang, nyaman, santai dan relaks. Namun menghabiskan me time
dengan berselancar di social media bukanlah pilihan yang baik. Hasil penelitian yang di lakukan oleh The American Psychological Association pada tahun 2013 menerangkan bahwa seseorang yang sering mengakses Facebook akan mudah merasa stress dan
depresi karena timbulnya perasaan iri dan tidak senang akan kehidupan orang lain.
4. Carilah hal-hal baru yang membuat Anda bersemangat
Menjadi seorang ibu rumah tangga
tidak melulu berurusan dengan dapur, kasur dan sumur. Jadilah ibu rumah tangga
yang aktif dan produktif. Anda bisa menggunakan smartphone Anda mencari ide-ide
unik yang dapat diterapkan di rumah bersama anak dan suami sehingga suasana
rumah terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Seperti misalnya,
membuat mainan edukasi untuk si kecil dari bahan bekas di rumah, atau membuat
kerajinan tangan untuk menghias dinding rumah. Tentu saja kegiatan yang tidak
memberatkan tugas Anda dan tidak menyita waktu istirahat Anda. Mendengarkan musik, menonton film atau serial drama favorit Anda atau membeli camilan baru untuk menemani tea time Anda bersama suami bisa menjadi pilihan.
Anda adalah asset untuk masa depan diri Anda, suami dan anak-anak Anda,
jadi cintai dan kembangkan apa yang Anda miliki. Berbahagilah sekarang, besok
dan seterusnya.