Pernahkah Anda merasa kesepian
padahal banyak orang disekitar Anda? Terutama untuk yang sudah menikah,
pernahkan Anda merasa hampa padahal pasangan Anda selalu mendampingi setiap waktu. Kesepian
disini tidak hanya diartikan secara fisik yang berjauhan atau LDR dengan
pasangan namun kesepian dalam arti ikatan batin dan kedekatan secara spiritual
dan emosional. Tinggal serumah, bertemu setiap hari bahkan tidur dan makan pun
bersamanya namun mengapa hati ini terasa sepi dan hampa. Merasa sendiri dan
syndrome kesepian tidak muncul secara tiba-tiba namun perasaan ini muncul
sebagai akumulatif atas perasaan diacuhkan dalam waktu lama, bahkan
penyebabbnya bisa karena kebiasaan kecil yang tidak disadari seperti misalnya
ditinggalkan main game, menonton TV atau ditinggal tidur.
Syndrome kesepian yang dialami
pasangan suami-isteri dapat memicu kerenggangan dalam berumah tangga. Disaat Anda
merasa kesepian dan hampa, mungkin pasangan Anda pun merasakan hal yang sama.
Pria dan wanita yang dipertemukan dalam pernikahan yang suci, tidak hanya
statusnya saja yang terikat namun hati dan perasaannya pun diikat oleh cinta
dan kasih sayang. Kemudian mereka menjadi sepasang suami isteri, ketika salah
satunya disakiti oleh orang lain maka pasangannya pun akan merasa tersakiti. Jika hati dan
jiwanya sudah saling terpaut, meskipun jarak memisahkan akan ada rasa atau
insting atau apapun istilahnya yang saling terpaut disaat pasangannya dalam
kesulitan, seakan ada suatu yang terjadi di alam bawah sadar kita.
Termasuk disaat pasangannya melakukan kebohongan kecil, maka akan sangat terasa
oleh pendampingnya.
Perasaan hampa dan kesepian seringnya
berasal dari hal-hal kecil dan sepele yang tidak dikomunikasikan. Hal tersebut
diibaratkan seperti bom waktu yang dapat meledak dikemudian hari dan merusak
segalanya. Komunikasi dalam rumah tangga yang tidak baik akan menimbulkan
perasaan hampa, merasa diacuhkan dan fatalnya bisa berujung pada pertengkaran
hebat bahkan perceraian. Perlu merubah mind
set keduanya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Sebelum hal tersebut terjadi, lakukan tiga hal dibawah ini untuk memperbaiki keharmonisan dengan pasangan:
1. Jadilah orang pertama yang melakukan perubahan
Jangan membuang waktu berharga
Anda dengan hanya menunggu. Menungu pasangan Anda bersikap romantis, menunggu
pasangan Anda meminta maaf atau mengajak Anda makan malam. Hindari ego Anda,
jadilah orang pertama yang melakukan perubahan. Jika Anda ingin diprioritaskan
oleh pasangan Anda, prioritaskan ia terlebih dahulu. Jika ada permasalahan yang
menyebabkan kerenggangan rumah tangga Anda. Cobalah cari waktu dan tempat yang tepat
kemudian ajaklah pasangan Anda bicara dari hati ke hati tanpa emosi. Ungkapkan
apa yang Anda sukai dan tidak sukai, begitu pula sebaliknya, kemudian cari
solusi bersama dari ketidak-sukaan atau ketidak-nyamanan Anda dan pasangan. Sikap
menimbun masalah kecil, menahan kekesalan dan menutupi kekecewaan terhadap
pasangan bukan hal yang baik. Asal diungkapkan dengan cara yang tepat maka masalah tersebut akan segera teratasi. Kegiatan saling koreksi satu sama lain juga dapat Anda agendakan setiap bulan untuk saling introspeksi diri.
Tidak perlu ragu untuk memulai
hari-hari Anda dengan candaan yang bisa lebih mencairkan suasana pagi sebelum
Anda memulai beraktifitas, Anda juga bisa menggoda pasangan Anda dengan kalimat
romantis sebelum tidur, atau Anda bisa mengajaknya bersantai sambil minum teh
hangat ditemani dengan cerita masa kecil atau mengenang masa pacaran dulu juga
bisa Anda lakukan untuk mengembalikan keintiman dengan pasangan. Jadilah orang pertama yang melakukan perubahan baik untuk keluarga Anda.
2. Bertanggung jawab dengan keputusan hidup Anda
Bukankah pernikahan ini Anda dan
pasangan yang putuskan? Lalu mengapa Anda lari ketika muncul permasalahan dalam
rumah tangga? Bertanggung jawablah dengan setiap keputusan yang Anda ambil.
Anda akan menjadi orang tua dari anak-anak Anda, Anda adalah pemimpin bagi
mereka. Tidaklah bijak menyerahkan urusan rumah tangga kepada salah satu pihak.
Suami yang berfikir bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab isteri adalah hal yang keliru
dan isteri yang menuntut suami dengan penghasilan tinggi diluar kemampuannya juga
keliru. Selalu ingat bahwa ada anak-anak kita nanti yang akan mencontoh sifat
dan perilaku kita sebagai orang tua, jadikan hal tersebut motivasi untuk Anda
dan pasangan untuk selalu belajar lebih baik, saling perhatian, tinggi
toleransi, selalu setia dan menjaga kepercayaan serta selalu menyayangi dan
mengasihi lebih. Membayangkannya saja sudah sangat indah apalagi mewujudkannya
dalam rumah tangga Anda bukan?
Baca juga : 5 Ide Sederhana Merawat Diri untuk Mama Super Sibuk
3. Belajar memaafkan kesalahan pasangan Anda
Manusia diciptakan dengan
kelebihan dan kekurangannya, termasuk pasangan. Ia juga hadir dengan sepaket
masa lalunya yang seperti apapun tidak bisa dihapus. Untuk Anda yang memiliki
pasangan dengan sebagian masa lalunya yang tidak kita sukai, kuburlah
dalam-dalam dan jangan dipanggil kembali, kemudian maafkanlah. Untuk Anda yang
sudah dimaafkan kesalahan masa lalunya oleh pasangan Anda, belajarlah dari
kesalahan tersebut, jangan pernah mengulang hal yang sama. Ingat, tidak banyak
orang yang mau menerima dan memaafkan kesalahan kita, maka cintailah ia dengan
sepenuh hati. Mungkin sebagian dari kita, sering merasa kesal dan jengkel dengan
sikap pasangan kita namun ingatlah kebaikannya dan perjuangan kalian selama ini
hingga menuju pernikahan. Jangan sungkan untuk meminta maaf pada pasangan jika
Anda melakukan kesalahan. Seorang wanita dapat memaafkan kesalahan seorang pria tetapi tidak akan bisa melupakan kesalahan tersebut namun hal itu tidak juga bisa dijadikan alasan pertengkaran dalam rumah tangga Anda dan pasangan.
Selain kesalahan di masa lalu pasangan, sering juga keributan ini berasal dari hal-hal sepele yang identik dengan kebiasaan perilaku yang melekat sejak kecil, seperti kebiasaan bangun siang, menyimpan barang tidak pada tempatnya atau yang lainnya. Jika dibiarkan dalam waktu yang lama akan membuat Anda atau pun pasangan merasa tidak dihargai nasehatnya atau tidak diindahkan saran serta tegurannya yang berdampak timbulnya syndrome kesepian dalam rumah tangga. Merasa hanya diri sendiri yang bertanggung jawab untuk rumah, untuk anak dan untuk setiap keputusan yang diambil. Perlu hati yang kuat dan tulus untuk memaafkan dan membimbing pasangan dengan karakter seperti ini. Yakinilah bahwa selalu ada keinginan baik untuk berubah dari pasangan Anda jika Anda mau terus memulai untuk berubah.