Saat anak beranjak remaja, mereka akan mengalami fase pergantian baik itu secara fisik maupun psikologis. Anak-anak yang tumbuh dengan sehat dan ceria dalam keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang akan tumbuh menjadi remaja yang lebih optimis dan penuh semangat. Sebaliknya anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang kurang sehat serta keluarga yang tidak harmonis cenderung menjadi remaja yang mudah mengeluh dan pesimis.
Pernahkah Anda
merasa kepala Anda penuh dengan ribuan kalimat cemoohan untuk diri Anda
sendiri? Terkadang pikiran
menerawang sesuka hati, menembus dinding masa lalu dan mengingatkan kita akan
kegagalan dan kekecewaan yang pernah kita alami. Kemudian Anda merasa menjadi
orang yang paling bersalah atas apa yang terjadi dalam hidup Anda atau merasa
malu dengan sebuah pencapaian yang tidak sesuai dengan harapan. Mungkin
perasaan ini juga yang akan muncul dalam benak anak-anak kita.
“Mengapa tidak berusaha lebih keras?”
“Mengapa Saya tidak bisa berhasil seperti orang lain?”
Pola asuh dan cara
mendidik orang tua yang diterapkan di rumah akan membentuk cara berpikir anak.
Karakter pesimis akan membuat anak menjadi orang yang takut akan masa depan
yang belum terjadi bahkan si pesimistis cenderung dijauhi teman-temannya karena
sikapnya yang tertutup dan sulit mencoba hal baru. Berikut ini adalah karakter
orang tua yang memicu anak-anak tumbuh menjadi seorang yang pesimis:
1. Si
Perfectionist
Orang tua dengan
karakter perfectionist memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap semua hal yang
ia miliki termasuk apa yang anak-anaknya kerjakan. Karakter orangctua seperti
ini akan membuat anak-anaknya under pressure. Mereka dipaksa tumbuh hanya untuk
memenuhi ambisinya, meraih prestasi dengan nilai tertinggi, selalu menanamkan
menjadi juara pada setiap kompetisi, memilihkan cita-cita mereka menjadi apa
saat dewasa nanti dan lainnya. Sementara, setiap anak terlahir dengan perbedaan
dan keunikannya sendiri. Ketika mereka mengalami kegagalan seperti prestasinya
menurun di kelas misalnya, ia akan mengalami stress dan menyalahkan dirinya
sendiri. Jika dibiarkan, sikap menyalahkan diri sendiri tersebut akan membentuk
karakter pesimis pada anak.
2. Si
Pemarah
Jika kesalahn kecil
di rumah akan menjadi pertengkaran, berbicara dengan nada tinggi dianggap
biasa, serta sikap saling menyalahkan adalah solusi dari setiap masalah dan
marah adalah makanan sehari-hari di rumah, maka tidak dapat dipungkiri
kebiasaan keluarga seperti ini akan melekat pada diri anak-anak Anda. ketika
anak membuat sedikit keributan atau membuat rumah sedikit berantakan kemudian
Anda menyalahkan dan langsung memarahinya, dampaknya anak akan merasa takut,
minder dan pesimis untuk melakukan hal-hal baru di kemudian hari. Fatalnya,
anak-anak justru mengadopsi karakter orangtuanya saat ia dewasa nanti.
3. Si Pesimis
Tidak sedikit
orangtua yang memiliki karakter pesimis yang ia tularkan pada anak-anaknya.
Seperti, ketika anaknya ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ternama,
orang tua yang baik akan memberikan support
untuk anaknya, sebaliknya orang tua yang pesimis akan menjatuhkan harapan dan
merobohklan cita-cita anaknya karena ketakutannya akan masa depan yang belum
terjadi. Mental pejuang seorang anak akan hilang ketika dididik oleh orang tua
yang pesimis. Semua pendapat dan idenya justru dipatahkan oleh orang terdekat,
orang terpenting dan orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.
“Tidak akan sampai kesuksesan seorang anak sebelum sampai pada Tuhan doa dari orang tuanya.”