Setiap anak
memiliki rasa percaya diri yang akan tumbuh secara alami namun seiring
bertambahnya usia si kecil serta pengaruh lingkungan sekitar, rasa percaya diri
ini perlu dipupuk dan diarahkan oleh orang tua agar tumbuh secara positif.
Faktor keluarga dan lingkungan sekitar turut mempengaruhi tumbuhnya rasa
percaya diri pada setiap anak, apakah akan terus tumbuh atau justru malah
terkikis akibat lingkungan yang tidak mendukung akibatnya anak tumbuh menjadi pesimis. Berikut ini adalah 9
rahasia menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, diantaranya:
1. Memberi
Pujian Yang Wajar
Memberikan pujian
atau hadiah atas prestasi si kecil merupakan hal yang dapat dilakukan oleh
orang tua kepada setiap anaknya. Dengan memberikan pujian atau hadiah
diharapkan dapat memotivasi si kecil untuk lebih semangat meraih prestasinya kembali. Namun
memuji anak secara berlebihan akan membentuk kepribadian anak menjadi over confident yang justru berdampak kurang
baik untuknya.
Anda harus menahan diri ketika
memberikan pujian dan hadiah pada si kecil. Berikan pujian dan hadiah untuk
prestasinya, namun jangan memberikan pujian dan hadiah untuk hal-hal yang
memang seharusnya ia lakukan, seperti menggosok gigi misalnya, ucapan terimakasih sudah cukup untuk
mengapresiasi sikap baiknya. Memberikan pujian juga dapat dimodifikasi dengan
saran dari Anda, seperti ketika si kecil belajar menggambar Anda bisa mengucapkan “Bagus sekali, nak gambarnya.
Apalagi kalo ditambah warna merah sebelah sini, nak!”, sehingga anak tetap
merasa dihargai atas karyanya sendiri.
2. Stop menjadi Superhero
untuk anak
Si kecil merengek
dan bersedih karena kalah dalam pertandingan yang diikutinya, sebagai orang tua pasti kita ikut bersedih. Melakukan segala cara agar
anak Anda menjadi juara bukanlah solusi satu-satunya apalagi harus melakukan
pendekatan dengan juri. Say No to “Cheating”!!!
Moms, mengajarkan
anak menerima kekalahan secara sportif dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Kedepannya ia
akan mengenali apa yang menjadi kelemahan dan potensinya sendiri.
3. Berikan kesempatan si kecil untuk belajar mengambil
keputusan
Pada beberapa
kesempatan Anda perlu memberinya kelonggaran untuk belajar mengambil keputusan
sendiri, namun tentu saja untuk anak usia 2-3 tahun lebih baik Anda memberikan
pilihan 2 atau 3 option sebelum anak mengambil keputusan agar ia tidak
kebingungan untuk menjawab. Misalnya, Anda akan mengajaknya berlibur, berilah
opsi 2-3 tempat favorit keluarga Anda pada si kecil, dan berikan ia kesempatan
untuk memilih dengan opininya
sendiri.
4. Bantu ia Menemukan hobinya
Ajaklah ia untuk
melakukan banyak kegiatan, seperti beragam kegiatan olah raga, bermain musik, mengikuti event anak-anak dan lainnya. Dengan mengenalkan anak pada beragam aktifitas, ia
akan memiliki banyak
referensi mengenai apa yang ia sukai
dan pengalaman bertemu dengan banyak orang baru membuat rasa percaya dirinya
terlatih dan terus tumbuh. Memasuki usia 6-7 tahun,
umumnya anak sudah bisa mendeskripsikan hobi atau kegiatan favorit-nya. Banyak orang biasa
kemudian menjadi sukses karnena mendalami hobinya. Bukankah pekerjaan yang
paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar? Jadi, dukunglah hobi si kecil
untuk menemukan bakat dan mengasah keahliannya tanpa harus terkikis oleh obsesi orang tua.
5. Menghargai Privasinya
Banyak orang tua yang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mengunduh
banyak informasi seputar kids and parenting. Sebaliknya, teknologi juga
mengubah mind set orang tua untuk gampang sekali mengupload kegiatan
anak-anaknya tanpa filter. Contoh, banyak orang tua yang dengan santai
mengupload anaknya yang berumur 1 tahun tanpa busana, meskipun ia masih kecil
dan belum mengerti namun yang harus kita pahami adalah setiap foto yang
diupload ke internet akan tersimpan selamanya entah di tempat mana. Membayangkan,
pada saat anak beranjak dewasa, ia menemukan foto masa kecilnya beredar tanpa
busana dapat membuatnya merasa malu.
Menghargai privasinya bukan berarti membiarkan anak sendiri di dalam
kamarnya dengan segala gadget yang ia miliki. Privasi disini lebih diartikan
pada hal-hal yang menyangkut perasaan. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menyayangi
dan menghargainya sebagai bagian dari keluarga akan tumbuh menjadi anak yang
memiliki rasa percaya diri tinggi. Berbeda dengan anak yang tumbuh dalam
keluarga yang sering mengucilkannya akan tumbuh menjadi anak yang minder dan
mudah putus asa.