Mengawali tahun 2018, perjalanan kami dimulai dengan trip to Bali yang
disponsori sepenuhnya oleh WRP sebagai hadiah utama blog competition yang
digelar Agustus 2017 lalu.
Mulai dari pemesanan tiket pesawat, hotel dan akomodasi sudah diurus
langsung dari pihak WRP, saya dan suami tinggal memikirkan mau jalan kemana. So
seperti biasa sebelum melakukan perjalanan, kami membuat itinerary terlebih
dahulu untuk mengestimasi biaya dan waktu. Beberapa tempat pun sudah di list
sambil mereview ulang kira-kira tempatnya baby friendly apa ngga, saya juga
minta referensi tempat kepada driver yang sudah dibooking oleh pihak WRP untuk
menemani kami selama di Bali.
Bersyukur sekali, kami mendapatkan driver (Mas Ega) yang super ramah dan
easy going, asik banget diajak ngobrol. Buat kamu yang punya rencana ke Bali
dan masih bingung soal estimasi budget dan itinerarynya, kamu bisa pake jasa
Bali Tour Mas Ega ini.
Day 1 - TRIP TO BALI WITH WRP FRUITBAR 2018
Flight dari Jakarta pukul 07.45 WIB dan tiba di Ngurah Rai Air Port
sekitar pukul 10.25 WITA. Hotel Courtyard Marriott yang sudah dibooking baru
bisa Check In jam 15.00 WITA. Jadi kami langsung meluncur ke Taman Budaya Garuda
Wisnu Kencana yang berada di Tanjung Nusa Dua, Badung, Bali. Jalanan siang itu
tidak begitu macet sehingga kami tiba lebih cepat dari perkiraan. Setelah
membeli tiket masuk GWK, semua pengunjung diwajibkan mengenakan kain ikat
sebelum memasuki kawasan wisata GWK yang disebut-sebut akan rampung tahun 2018
ini.
Disini juga ada Live performance setiap harinya seperti penampilan tari
bali, tari barong keris, petualangan garuda cilik, Okokan Parade dan Joged
bumbung yang digelar bergantian waktunya. Untuk melihat semua penampilan ini,
pengunjung tidak dikenakan tiket lagi, cukup sekali membeli tiket di gate masuk
Rp.20.000,- saja, kami sudah bisa berkeliling GWK dan melihat pertujukan
tradisional Bali. Kami pun berkesempatan untuk melihat penampilan Garuda Wisnu
Ballet, meskipun kami tidak begitu mengerti dengan arti tembangan yang
dialunkan tapi kami sangat menikmati pertunjukan Garuda Wisnu Ballet. Setelah
pertunjukan para pengunjung pun diberi kesempatan untuk foto bersama para
pemain.
Menurut saya pribadi, ini keren banget ya. Mereka melestarikan budaya
dan sejarah daerah Bali kemudian mengenalkan pada seluruh dunia melalui
wisatawan yang hadir. Meskipun yang nonton saat itu gak begitu banyak, tapi
acting mereka tetap keren dan all out. Apalagi make up dan wardrobe nya yang
niat banget.
Untuk sampai di patung Dewa Wisnu kami harus menempuh anak tangga yang
cukup tinggi, apalagi siang itu matahari cukup terik. Sambil gendong Nafeesa,
lumayan banget bakar lemak. Dari ketinggian 146 meter dari atas tanah kami
dapat melihat pemukiman dan pantai di sekitar Bali. Dari sini, kami dapat
duduk-duduk sambil menikmati semilir angin dari atas bukit. Berikutnya kami
menuju patung burung garuda yang masih dalam tahap pengerjaan. Dari sini
pengunjung dapat melihat lotus Pond yakni lorong besar pilar berukir batu kapur
yang tinggi, ditambah pemandangan rumput hijau yang rapi dan bersih cukup
memanjakan mata kami.
Disini juga tersedia Mushola, beberapa restoran dan tempat pembelian
oleh-oleh khas Bali seperti baju, iket kepala, kaca mata dan makanan khas Bali
lainnya. Sebaiknya kamu membawa minum air mineral sendiri, selain hemat,
mengitari area GWK akan membuat kita kehausan.
MAKAN SIANG DI WARUNG MAKAN IBU OKI
Setelah cukup lelah naik turun tangga, tiba waktunya makan siang dan
perut juga mulai protes. Kami pun diajak untuk mencicipi nasi campur khas Bali
di warung makan Ibu Oki yang terkenal. Sayangnya saya tidak sempat mengambil
foto disini karena kerepotan sama Nafeesa yang udah mulai cranky. Warung makan
ibu Oki ini ramai pengunjung terutama saat makan siang. Sesuai dengan namanya
“warung” Ibu Oki juga tampil sederhana seperti warung pada umumnya. Tempatnya
tidak luas hanya ada 5-6 meja saja. Tapi gak nyesel sih kesini meskipun
panas-panasan dan ramai, rasa nasi campurnya enak banget.
Satu porsi nasi campur >> nasi
putih, sate lilit, urap sayuran, pepes tahu ayam, tempe oreg, semur telor,
kacang goreng dan ayam goreng, Rp. 20.000,-
MAMPIR SEBENTAR KE PANTAI PANDAWA
Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pandawa
yang indah nan menawan dengan pasir putihnya yang menghampar luas. Kami tiba di
pantai pandawa sekitar pukul 14.00 WITA, salah waktu memang, ke pantai siang
bolong kebayang dong ya panasnya seperti apa?
Tapi pengunjung tetap ramai loh meskipun panas terik, saya sampe gak
bisa membuka mata dengan normal karena silau sekali. Tapi melihat para
pengunjung baik itu wisatwan asing maupun lokal sangat menikmati bermain ombak
disana. Selain menikmati keindahan Pantai Pandawa, pengunjung pun dapat
memanjakan diri dengan pijatan tradisional langsung di tepi pantai yang
dibandrol Rp.50.000/60 menit untuk wisatawan lokal.
Disekitar pantai juga terdapat warung dan tempat makan seperti makan
berat, snack, kelapa muda dan makanan khas Bali lainnya. Kamu bisa foto
sepuasnya di Pantai Pandawa, banyak spot yang cantik untuk Menuhin feed
instagram kamu deh pokonya. Selain di pantai, kamu juga bisa tetep eksis disisi
lain Pantai Pandawa yakni sekitar jalanan menuju pantai yang letaknya diatas
sehingga kita bisa menikmati indahnya laut lepas dari ketinggian.
MENIKMATI SENJA DI PURA ULUWATU
Tak lama, kami melanjutkan trip menuju wisata alam yang terkenal dengan
pertunjukan tari kecak di tebing pinggir pantai. Yups, wisata pura uluwatu.
Rasanya bahagia deh sampe disini, nuansa rimbun pepohonan dan angin yang cukup
kencang menyambut kedatangan kami. Kami pun tak sungkan untuk berisitirahat dan
rebahan di gazebo yang ada disana. Nafeesa masih saja exciting lari kesana
kemari, sementara saya rasanya sudah lelah. Di pura uluwatu pun kita masih
harus berjalan menyusuri tebing bibir pantai.
Hati-hati ya saat berkunjung ke Pura Uluwatu karena banyak monyet yang
turun berkeliaran menghampiri pengunjung. Tak jarang mereka menyerang pengunjung
yang menjinjing makanan. So, pastikan kamu berhati-hati dengan barang bawaan,
seperti kamera dan handphone.
MAKAN MALAM DI BINTANG LAUT RESTORAN, PANTAI JIMBARAN
Trip kami di hari pertama akan diakhiri dengan makan malam di Jimbaran,
untuk menghindari kemacetan arah kesana, kami memutuskan untuk segera bergegas
dari pura uluwatu dan tidak menonton pertunjukan tari kecak terlebih dahulu.
Sayang sekali kami kurang beruntung, saat tiba di restoran Bintang Laut di
Jimbaran ternyata turun hujan, air laut pun pasang dan terkena buangan sampah
dari daerah lain. Ngeri sih litanya, karena sampahnya bukan cuma puing kecil
tetapi bongkahan kayu yang cukup besar seperti balok kayu, batang pohon dan
lainnya yang terhempas ombak tinggi.
Ya sudah, kami menikmati makan malam di
dalam restoran karena cuaca sedang tidak mendukung. Berharap besok sore bisa
dapet sun set di Tanah Lot. Setelah makan malam, kami bergegas ke hotel untuk
berisitrihat.